FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 33 Tahun 2018 Tentang PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah:

Menimbang : a. bahwa saat ini ditemukan banyak kasus terjadinya penyakit Campak dan Rubella di Indonesia. Kedua penyakit ini digolongkan penyakit yang mudah menular dan berbahaya, karena bisa menyebabkan cacat permanen dan kematian. Anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terkena penyakit tersebut. Untuk mencegah mewabahnya dua penyakit tersebut, dibutuhkan ikhitar dan upaya yang efektif, salah satunya melalui imunisasi;

  1. bahwa untuk melindungi anak dan masyarakat Indonesia dari bahaya penyakit campak dan rubella, Pemerintah menjalankan program imunisasi MR. Terkait dengan itu, Menteri Kesehatan RI mengajukan permohonan fatwa kepada MUI tentang status hukum pelaksanaan imunisasi MR tersebut untuk dijadikan sebagai panduan pelaksanaannya dari aspek keagamaan;
  2. bahwa atas dasar pertimbangan di atas, maka dipandang perlu menetapkan fatwa tentang penggunaan Vaksin MR Produksi SII untuk Imunisasi agar digunakan sebagai pedoman.

Mengingat : 1. Al-Quran al-Karim

  1. Firman Allah SWT yang menjelaskan larangan menjatuhkan diri dalam kebinasaan, antara lain:

وَلََ ت لُْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلََ التَّ هْلُكَةِ

…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan… QS Al-Baqarah [2]: 195

  1. Firman Allah SWT yang memperingatkan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, antara lain:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَ رَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِ مْ فَ لْيَتَّ قُوا اللّهَ

وَلْيَ قُولُواْ قَ وْلًَ سَدِيد اً

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 2

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. Al-Nisa: 9)

  1. Firman Allah SWT yang memerintahkan konsumsi yang halal dan thayyib, antara lain:

يَا أَي هَُّا النَّاسُ كُلُواْ مَِِّا فِِ الأَرْضِ حَلاَلًَ طَيِّباً وَلََ تَ تَّبِعُواْ خُطُ وَا ال يََّّْطَا إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 168).

  1. Firman Allah SWT yang menjelaskan bahwa dalam kondisi kedaruratan syar’i dibolehkan mengonsumsi yang haram, antara lain:

إِنَََّّا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلََْمَ الِْْنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيِْ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ

غَيْ رَ بَاغٍ وَلََ عَادٍ فَلا إِثَْْ عَلَيْهِ إِ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]:173)

…. وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلََّ مَا اضْطُرِرْتُُْ إِلَيْهِ …

…. Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya… (QS. Al-An’am : 119)

  1. Hadis-hadis Nabi SAW, antara lain:

عَنْ أَبِِ هُرَيْ رَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَا مَا أَنْ زَ اللَّهُ

دَاءً إِلََّ أَنْ زَ لَهُ شِفَاء )رواه البخاري(

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW: Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya”. (HR. al-Bukhari)

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 3

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ أَ رَسُو اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ قَا تتَدَاوَوْا فَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لََْ يَضَعْ دَاءً إِلََّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْ رَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْْ رَمُت )رواه أبو

داود و الترمذي و النسائي وابن ماجه(

“Berobatlah, karena Allah tidak menjadikan penyakit kecuali menjadikan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu pikun (tua)”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِِ الدَّرْدَاءِ قَا قَا رَسُو اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَ لَّمَ تإِ اللَّهَ أَنْ زَ الدَّاءَ

وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَ تَدَاوَوْا وَلََ تَدَاوَوْا بَِِرَامٍ ت )رواه أبو داود(

“Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”. (HR. Abu Dawud)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَا قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْ نَةَ فَاجْتَ وَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ

النَّبُِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَ يَ رََّْبُوا مِنْ أَبْ وَالِْاَ وأَلْبَا اَِِ )رواه البخاري(

“Dari Sahabat Anas bin Malik RA: Sekelompok orang ‘Ukl atau Urainah datang ke kota Madinah dan tidak cocok dengan udaranya (sehingga mereka jatuh sakit), maka Nabi SAW memerintahkan agar mereka mencari unta perah dan (agar mereka) meminum air kencing dan susu unta tersebut”. (HR. al-Bukhari)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَا قَا رَسُو اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لََ ضَرَرَ وَلََ ضِرَارَ

)رواه أحمد ومالك وابن ماجه(

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh membahayakan orang lain (secara sepihak) dan tidak boleh (pula) membalas bahaya (yang ditimbulkan oleh orang lain) dengan bahaya (yang merugikannya).” (HR. Ahmad, Malik, dan Ibn Majah)

عَ نْ حُ ب يبٍ بن أَبِِ ا بِتٍ قَا سعْ تُ إِب رَاهِ يمَ بْنَ سَ عْ دٍ قَا سعْ تُ أُسَ امَ ة بْنَ

زَ يْدٍ يُ دِّ ثُ سَ عْ دً ا عَ نِ الن بِِّ صَ لَّى الل عَ لَ يهِ وسَ لَّمَ قَا إِذ ا سعْ تُمْ ب اِلط اع و بِ أَ رضٍ فَلَا تَدْ خُ لُ وهَ ا و إِذ ا و قَعَ بِ أَ رضٍ و أَن تُمْ بَا فَلَا رُجُ وا مِ نْ هَ ات )رواه البخاري(

Dari Habib bin Abi Tsabit ia berkata: Saya mendengar Ibrahim bin Sa’d berkata: Saya mendengar Usamah bin Zaid berbincang dengan Sa’d tentang apa yang didengar dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Bila kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah maka jangan masuk ke daerah wabah tersebut. Dan bila wabah tersebut telah terjadi di suatu daerah sedang kalian berada di situ, maka jangan keluar dari daerah tersebut”. (HR. al-Bukhari).

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 4

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

قَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحمَْنِ سَِعْتُ أَبَا هُرَيْ رَةَ عَنْ النَّبِِّ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَا لََ تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ … )رواه البخارى(.

Abu Salamah bin ‘Abd al-Rahman berkata: Aku mendengar Abu Hurairah (yang meriwayatkan) dari Nabi SAW (bahwa beliau bersabda): “Janganlah kalian mendatangkan orang yang sakit kepada orang yang sehat” … (HR. al- Bukhari).

عَنْ أَبِِ خُزَامَةَ عَنْ أَبِيهِ قَا سَأَلْتُ رَسُو اللِ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَ لَّمَف فَ قُلْتُ

يَا رَسُو اللِ أَرَأَيْتَ رُقًى نَسْتَ رْقِيهَا وَدَوَاءً ن تََدَاوَى بِهِ وت قَُاةً ن تََّقِيهَا هَلْ تَ رُدُّ مِنْ

قَدَرِ اللِ شَيْئًا. قَا هِيَ مِنْ قَدَرِ اللِ. قَا أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

صَحِيحٌ )رواه الترمذى( .

Dari Abu Khuzamah, dari ayahnya (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw, katakau: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang rukiah yang kami gunakan sebagai obat, dan obat-obatan yang kami gunakan sebagai penyembuh penyakit dan penangkal yang kami gunakan sebagai pemelihara badan, apakah berarti kami menolak taqdir Allah?, (Nabi) berkata: hal itu adalah taqdir Allah” (HR. al-Tirmidzi).

  1. Kaidah-Kaidah fiqh:

الْأ مْ رُ بِال يَّْ ءِ أَمْ رٌ بِ وسَ ا ئِ لِهِ

“Perintah terhadap sesuatu juga berarti perintah untuk melaksanakan sarananya”

الدَّ فْعُ أَ ولََ مِ نَ ال رَّ فْعِ

“Mencegah lebih utama dari pada menghilangkan”

الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ اْلإِمْكَا “Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin.”

الضَّرَرُ ي زَُا “Dharar (bahaya) harus dihilangkan.”

ي تَحَ مَّ لُ الضَّ رَرُ الْ اصُّ لِدَ فْعِ الضَّ رَرِ ا لْع امِّ

“Memikul/menanggung kemadharatan yang tertentu demi mencegah (timbulnya) kemadharatan yang merata”

الضَّرُوْاَ ر تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَا “Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang.”

مَا أُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ ي قَُدَّرُ بِقَدَرِهَا

“Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya.”

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 5

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

مَاحُ رِّمَ لِذَ ا تِهِ أُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ وَ مَاحُ رِّمَ لِغ يِه أُبِيْحَ لِلْحَاجَةِ

“Sesuatu yang diharamkan karena dzatnya maka dibolehkan karena adanya dlarurat, dan sesuatu yang diharamkan karena aspek di luar dzatnya (lighairihi) maka dibolehkan karena adanya hajat.

Memperhatikan : 1. Pendapat Imam Al-‘Izz ibn ‘Abd Al-Salam dalam Kitab Qawa’id Al-Ahkam yang menjelaskan kebolehan berobat dengan menggunakan barang najis jika tidak ditemukan yang suci:

جَ ازَ ال تَّدَ ا وِي بِالن جَ اسَ ا إِذ ا لََ يَِ دْ ط اهِ رًا مَ قَ امَ هَ ا ف لأ مَ صْ لَحَ ة ا لْعَ ا فِ يَةِ

والسَّ لا مَ ةِ أَكْ مَ لُ مِ نْ مَ صْ لَحَ ةِ اجْ تِ نَابِ الن جَ اسَ ةِ

“Boleh berobat dengan benda-benda najis jika belum menemukan benda suci yang dapat menggantikannya, karena mashlahat kesehatan dan keselematan lebih diutamakan daripada mashlahat menjauhi benda najis”.

  1. Pendapat Imam al-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ juz 9 halaman 55) yang menjelaskan kebolehan berobat dengan yang najis dengan syarat tertentu :

قَا أَصْ حَ اب نَا و إِنََّّ ا يَ وزُ ال تَّدَ ا وِي بِالن جَ اسَ ةِ إِذَا لََْ يَِ دْ طَاهِرًا مَقَامَهَاف فَ وَجَ دَ ه حُ رِّمَ تِ الن جَ اسَ ا بِلا خِ لا فٍ ف وعَ لَ يهِ يَْ مِ لُ حَ دِ يْثُ ت إِ الل لَْ يعَ لْ

شِ فَ ا ءكَُ مْ فِ يمَ ا حُ رِّمَ عَ لَ يكُ مْ تف ف هُ وَ حَ رَامٌ عِ ندَ وُجُ ودِ غَ يِه ف و لَ يسَ حَ رَامً ا إِذ ا لََ يَِ دْ غَ يْ رَه . قَا أَصْ حَ اب نَا و إِنََّّ ا يَ وزُ إِذ ا كَ ا ا لْمُ تَدَ ا وِي عَ ا رِ فًا بِالط بِّ ف ي عُْ رَفُ

أ نَّه لَ ي قَُ ومُ غَ يْ رَ هَ ذَ ا مَ قَ امَ ه ف أَوْ أَخْ ب رَ بِذَ لِكَ ط بِ يبٌ مُ سْ لِمٌ .

“Sahabat-sahabat kami (Pengikut Madzhab Syafi’i) berpendapat : Sesungguhnya berobat dengan menggunakan benda najis dibolehkan apabila belum menemukan benda suci yang dapat menggantikannya. Apabila telah didapatkan – obat dengan benda yang suci – maka haram hukumnya berobat dengan benda-benda najis, tanpa ada perselisihan pendapat. Inilah maksud dari hadist “ Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesehatan kalian pada sesuatu yang diharamkan atas kalian “, maka berobat dengan benda najis menjadi haram apabila ada obat alternatif yang tidak mengandung najis dan tidak haram apabila belum menemukan selain benda najis tersebut. Sahabat-sahabat kami (Pengikut Madzhab Syafi’i) berpendapat : Dibolehkannya berobat dengan benda najis apabila orang yang berobat tersebut mengetahui aspek kedokteran dan diketahui bahwa belum ada obat kecuali dengan benda najis itu, atau apabila dokter muslim (kompeten dan kredibel, pen) merekomendasikan obat – dengan benda najis itu’.

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 6

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

  1. Pendapat Imam Muhammad al-Khathib al-Syarbaini dalam kitab Mughni al-Muhtaj yang menjelaskan kebolehan menggunakan benda najis atau yang diharamkan untuk obat ketika belum ada benda suci yang dapat menggantikannya:

وَالتَّدَاوِي بِالنَّجِسِ جَائِزٌ عِنْدَ فَ قْدِ الطَّاهِرِ الَّذِيْ ي قَُوْمُ مَقَامَهُ.

“Berobat dengan benda najis adalah boleh ketika belum ada benda suci yang dapat menggantikannya” (Muhammad al-Khathib al-Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, [Bairut: Dar al-Fikr, t.th.], juz I, h. 79).

  1. Pendapat Imam Syihabuddin al-Ramli dalam Kitab Nihayatul Muhtaj juz 1 halaman 243 berpendapat tentang hadis Rasulullah saw yang menjelaskan adanya perintah minum kencing unta, sebagai berikut:

… وَأَمَّا ( أَمْرُهُ صلى الل عليه وسلم الْعُرَنِيِّ يْنَ بِ رَُّْبِ أَبْ وَا الْإِبِلِ ( فَكَا لِلتَّدَاوِي ف وَهُوَ جَائِزٌ بِصرف النَّجَاسَةِ غَيِْ الْْمْرَة … Adapun perintah Nabi SAW kepada suku ‘Uraniy untuk meminum air kencing unta.. itu untuk kepentingan berobat, maka ini dibolehkan sekalipun ia najis, kecuali khamr”

  1. Pendapat Imam al-Nawawi dalam kitab Raudlatu al-Thalibin, juz 2 halaman 65 menyatakan tentang larangan pemanfaatan babi baik dalam kondisi hidup maupun setelah mati serta kebolehannya dalam kondisi darurat :

لل اََّّفِعِيِّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – تَ عَالََ نُصُوصٌ مُُْتَلِفَةٌ فِِ جَوَازِ اسْتِ عمَا الْأَعْيَا النَّجِسَةِ. فَقِيلَ فِِ أَنْ وَاعِ اسْتِعْمَالِْاَ كُلِّهَا قَ وْلََ .ِِ  وَالْمَذْهَبُ التَّ فْصِ يلُف فَلَا يَُوزُ

فِِ الثَّ وْبِ وَالْبَدَ إِلََّ لِلضَّرُورَةِف وَيَُوزُ فِِ غَيِْهَِِا إِ كَانَتْ نَََاسَ ةً مَُُفَّفَةًف فَ كَانَتْ مُغَلَّظَةً – وَهِيَ نَََاسَةُ الْكَلْبِ وَالِْْنْزِيرِ – فَلَا. وبَِذَا الطَّرِيقِ قَا أَبُو

بَكْرٍ الْفَارِسِيُّف وَالْقَفَّا وَأَصْحَابُهُ. فَلَا يَُوزُ لُبْسُ جِلْدِ الْكَلْبِ وَالْْ نْزِيرِ فِِ حَا الَِخْتِيَارِف لِأَ الِْْنْزِيرَ لََ يَ وزُ الَِنْتِفَاعُ بِهِ فِِ حَيَاتِهِ بِِ ا فٍَ وَكَذَا الْكَلْبُف إِلََّ فِِ

أَغْرَاضٍ مَُْصُوصَةٍف فَ بَ عْدَ مَوْتِِِمَا أَوْلََ. وَيَُوزُ الَِنْتِفَاعُ بِالثِّ يَابِ النَّجِسَةِ وَلُبْسُهَا

فِِ غَيِْ الصَّلَاةِ وَنََْوِهَاف فَ فَاجَأَتْهُ حَرْبٌف أَوْ خَافَ ع لَى ن فَْسِهِ لََِ،رف أَوْ ب رَْدٍف

وَلََْ يَِدْ غَيْ رَ جِلْدِ الْكَلْبِ وَالِْْنْزِيرِف جَازَ لُبْسُهُمَا. وَهَلْ يَُوزُ لُبْسُ جِ لْدِ ال اََّّةِ

الْمَيْتَةِف وَسَائِرِ الْمَيْتَا فِِ حَا الَِخْتِيَارِ؟ وَجْهَا .ِِ  أَصَحُّهُمَا التَّحْرِي Bagi Imam Syafii, ada beberapa redaksi berbeda dalam hal kebolehan menggunakan barang najis. Dikatakan, dalam berbagai jenis penggunaannya secara keseluruhan ada dua pendapat. Sedangkan

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 7

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

menurut madzhab Syafi’i ada rincian. Tidak boleh menggunakannya di dalam pakaian dan badan kecuali dalam kondisi dlarurat, dan boleh dalam selain keduanya jika najis ringan. Apabila najis berat (mughallazhah), –yaitu najisnya anjing dan babi—maka tidak boleh. Ini pendapat Imam Abu Bakar al-Farisi, al-Qaffal dan para muridnya. Tidak boleh memakai kulit anjing dan babi dalam kondisi normal (hal al-ikhtiyar), karena babi tidak boleh dimanfaatkan saat hidupnya, demikian juga anjing kecuali untuk tujuan khusus. Maka, dalam kondisi setelah mati lebih tidak boleh untuk dimanfaatkan. Boleh memanfaatkan pakaian najis dan memakainya dalam kondisi selain saat shalat dan sejenisnya. Jika terjadi peperangan atau khawatir akan dirinya karena kondisi cuaca, panas atau dingin, dan tidak ditrmukan kecuali kulit anjing dan babi maka –dalam kondisi tersebut–, dibolehkan memakainya. Apakah boleh memakai kulit bangkai kambing dan bangkai lannya dalam kondisi normal? Ada dua pendapat. Menurut pendapat yang lebih shahih, hal tersebut diharamkan.

  1. Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfatu al-Muhtaj juz 1 halaman 290 yang menyebutkan kenajisan babi dan larangan pemanfaatannya dalam kondisi normal, sebagai berikut:

) وَخِنْزِيرٌ ( لِأَنَّهُ أَسْوَأُ حَالًَ مِنْهُ إذْ لََ يَُوزُ الَِنْتِفَاعُ بِهِ فِِ حَ الَةِ الَِخْتِيَارِ بَِِا مَعَ صَلَاحِيَّتِهِ لَهُ فَلَا يَرِدُ نََْوُ الََْ رَََّا ؛ وَلِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ إلََ قَ تْلِهِ مِنْ غَيِْ ضَرَرٍ

…. Dan (barang najis berikutnya adalah) babi, karena kondisinya lebih buruk dari anjing. Hal ini karena tidak diperbolehkan memanfaatkan babi dalam kondisi normal (halat al-ikhtiyar) seketika itu meski dapat dimanfaatkan, maka tidak datang seperti halnya serangga. Juga karena dianjurkan untuk membunuhnya meski tidak membahayakan.

  1. Pendapat Syeikh Ahmad al-Dardir dalam kitab al-Syarh al-Kabir juz 2 halaman 115 yang menjelaskan definisi dlarurat dan kebolehan mengonsumsi sesuatu yang haram, bahkan terkadang wajib, karena dlarurat, sebagai berikut:

)وَ( الْمُبَاحُ مَا أُذِ فِيهِف وَإِ كَا قَدْ يَِبُ )لِلضَّرُورَةِ( ف وَهِيَ الَْْوْفُ عَلَى

النَّ فْسِ مِنْ الْْلََاكِ عِلْمًا أَوْ ظَنًّا

…Dan yang dibolehkan, yaitu yang diizinkan untuk konsumsi, dan terkadang wajib, karena kondisi dlarurat, yaitu adanya kondisi takut atas jiwa dari kebinasaan, dengan pengetahuan atau dugaan..

  1. Pendapat Imam Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni juz 9 halaman 416 sebagai berikut:

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 8

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

فَصْلٌ وَت بَُاحُ الْمُحَرَّمَا عِنْدَ الَِضْطِرَارِ إلَيْ هَاف… وَسَبَبُ الْإِبَاحَةِ الَْ اجَةُ إلََ

حِفْظِ النَّ فْسِ عَنْ الْْلََاكِ؛ لِكَوْ هَذِهِ الْمَصْلَحَةِ أَعْظَمَ مِنْ مَصْلَحَةِ اجْتِنَابِ

النَّجَاسَا فِِ وَالصِّيَانَةِ عَنْ تَ نَاوُ الْمُسْتَخْبَثَا Fasal: Dibolehkan hal yang diharamkan ketika keterpaksaan,… sebab kebolehan adalah adanya kebutuhan kepada menjaga jiwa dari kebinasaan, karena kemaslahatan ini lebih besar dari kemslahatan menjauhi hal yang najis dan melindungi dari memperoleh yang kotor.

  1. Pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaily dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh juz 4 halaman 2602 yang mendefinisikan dlarurat dan hukumnya, sebagai berikut:

تعريف الضرورة وحكمها هي الْوف على النفس من الْلاك علماً )أي قطعاً(

أو ظناً. فلا ي تَّرط أ يصبر حتى ي رَّف على المو , و إنَّا يكفي حصو الْوف من الْلاك ولو ظنا

Definisi dlarurat dan hukumnya: yaitu takut atas jiwa dari kebinasaan, dengan pengetahuan (secara pasti) atau dugaan (prediksi). Karenanya, tidak dipersyaratkan untuk bersabar sampai hampir meninggal. Dan sungguh telah memadai bahwa kekuatiran akan kebinasaan tersebut bersifat prediktif.

  1. Fatwa MUI tentang penggunaan vaksin polio khusus (IPV) Tahun 2002 dan Fatwa MUI tentang penggunaan vaksin polio oral (OPV) Tahun 2005;
  2. Fatwa MUI Nomor 30 Tahun 2013 tentang obat dan pengobatan.
  3. Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi
  4. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia Tahun 2015 yang diselenggarakan di Pesantren At-Tauhidiyah Tegal yang terkait dengan imunisasi;
  5. Hasil pertemuan Majelis Ulama Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI pada tanggal 3 Agustus 2018 yang antara lain menyepakati adanya pengajuan sertifikasi halal terhadap produk vaksin yang digunakan untuk imunisasi MR serta pengajuan fatwa MUI tentang pelaksanaan imunisasi MR di Indonesia sebagai pedoman.
  6. Surat Menteri Kesehatan RI Nomor SR.02.06/Menkes/449/2018 tanggal 6 Agustus 2018 perihal Pengajuan Fatwa MUI tentang Pelaksanaan Imunisasi Measles Rubella di Indonesia, yang intinya menjelaskan bahwa kampanye imunisasi MR merupakan pelaksanaan kewajiban Pemerintah bersama masyarakat untuk

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 9

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

melindungi anak dan masyarakat Indonesia dari bahaya penyakit campak dan rubella, dan karenanya Menkes mengajukan fatwa MUI terkait dengan pelaksanaan imunisasi MR di Indonesia untuk dijadikan sebagai panduan pelaksanaan dari aspek keagamaan

  1. Laporan Kajian Vaksin MR dari LPPOM MUI melalui Suratnya Nomor DN15/Dir/LPPOM MUI/VIII/18 dan yang disampaikan dalam Sidang Komisi Fatwa MUI pada 15 Agustus 2018 yang pada intinya menjelaskan bahwa terdapat penggunaan beberapa bahan yang dinyatakan dalam dokumen yang diberikan oleh SII sebagai produsen Vaksin MR berasal dari bahan sebagai berikut:
  2. Bahan yang berasal dari babi, yaitu gelatin yang berasal dari kulit babi dan trypsin yang berasal dari pankreas babi.
  3. Bahan yang berpeluang besar bersentuhan dengan babi dalam proses produksinya, yaitu laktalbumin hydrolysate.
  4. Bahan yang berasal dari tubuh manusia, yaitu human diploid cell.
  5. Penjelasan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), Pengurus IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Pengurus ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) dan Direktur PT. Bio Farma dalam rapat Komisi Fatwa, Jumat, 17 Agustus 2018 yang antara lain:
  6. Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis dan dapat berujung pada komplikasi berupa pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Kekebalan terbentuk jika telah diimunisasi atau telah terinfeksi virus campak sebelumnya.
  7. Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit ini mudah menular, akan tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek teratogenik apabila rubella ini menyerang pada wanita hamil terutama pada masa awal kehamilan. Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan atau dikenal dengan sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS).
  8. Komplikasi dari campak yang dapat menyebabkan kematian adalah adalah radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Sekitar 1 dari 20 penderita Campak akan mengalami komplikasi radang paru dan 1 dari 1.000 penderita akan mengalami komplikasi radang otak. Selain itu, komplikasi

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 10

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

lain adalah infeksi telinga yang berujung tuli (1 dari 10 penderita), diare (1 dari 10 penderita) yang menyebabkan penderita butuh perawatan di RS.

  1. Jumlah kasus Campak dan Rubella dan kematian dalam 5 tahun terakhir di Indonesia adalah; Tahun 2014 : jumlah kasus suspek 12.943 dengan 15 kematian (2.241 positif campak, 906 positif Rubella); Tahun 2015 : jumlah kasus suspek 13.890 dengan 1 kematian (1.194 positif campak, 1.474 positif Rubella); Tahun 2016 : jumlah kasus suspek 12.730 dengan 5 kematian (2.949 positif campak, 1.341 positif Rubella); Tahun 2017 : jumlah kasus suspek 15.104 dengan 1 kematian (2.197 positif campak, 1.284 positif Rubella); dan Tahun 2018 (s.d bulan Juli) : jumlah kasus 2.389 (383 positif campak, 732 positif Rubella), sehingga total kasus campak-rubella yang dilaporkan dalam 5 tahun terakhir adalah 57.056 kasus (8.964 positif campak, 5.737 positif Rubella). Kurang lebih 89% kasus campak diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun. Sedangkan untuk rubella, kurang lebih 77% penderita merupakan anak usia di bawah 15 tahun.
  2. Berdasarkan hasil kajian terhadap situasi campak dan rubella di Indonesia oleh Kemenkes bersama para ahli dari WHO dan akademisi dari fakultas kedokteran dan fakultas kesehatan masyarakat di Indonesia yang dilakukan pada Oktober 2014 yang lalu, dengan mempertimbangkan situasi cakupan imunisasi dan kejadian penyakit campak serta rubella maka direkomendasikan agar dilakukan kampanye imunisasi MR dengan sasaran usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun. Bila tidak dilakukan kampanye dengan sasaran sebagaimana direkomendasikan maka akan terjadi peningkatan jumlah akumulasi kasus penyakit campak dan rubella
  3. Pelaksanaan kampenya imunisasi MR dimaksudkan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penularan penyakit Campak dan Rubella yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Juga untuk memutuskan transmisi virus Campak dan Rubella, menurunkan angka kesakitan Campak dan Rubella serta menurunkan angka kejadian CRS.
  4. Pelaksanaan Imunisasi MR di Indonesia menggunakan Vaksin MR produksi Serum Institute of India dengan pertimbangan bahwa vaksin MR tersebut telah memperoleh rekomendasi WHO dan jumlahnya mencukupi, sementara itu ada dua produk vaksi MR yang lain yaitu produk Jepang yang hanya mencukupi untuk kebutuhan nasionalnya dan tidak diekspor, dan produk China yang belum memperoleh rekomendasi dari WHO terkait standar keamanannya.
  5. Pandangan Komisi Fatwa yang menilai bahwa Kementerian Kesehatan, Komnas KIPI, IDAI, ITAGI dan PT. Biofarma memenuhi syarat kompetensi dan kredibilitas dalam memberikan penjelasan mengenai urgensi dan signifikansi pelaksanaan imunisasi MR di

Fatwa tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi 11

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Indonesia untuk mewujudkan kesehatan masyarakat dan menilai bahwa kebutuhan penggunaan vaksin MR produksi SII untuk pelaksanaan imunisasi MR sudah memenuhi keriteria dlarurat syar’iyyah mengingat bahaya yang ditimbulkan jika tidak dilakukan imunisasi serta belum ada vaksin lain yang halal dan suci dan belum ada alternatif cara lain yang efektif untuk melakukan pencegahan penyakit campak dan rubella.

  1. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa pada Rapat Pleno Komisi Fatwa pada tanggal 20 Agustus 2018.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Pertama : Ketentuan Hukum

  1. Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.
  2. Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan bahan yang berasal dari babi.
  3. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena :
  4. Ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah)
  5. Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci
  6. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.
  7. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.

Kedua : Rekomendasi

  1. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.
  2. Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.

4. Pemerintah harus mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal