MUI Gelar Halaqoh Peta Dakwah

Balikpapan- (MUI  Kaltim)- MUI Prov Kaltim melalui Komisi Dakwah dan Pebinaan Masyarakat bekarja sama dengan MUI  Pusat menggelar  Halaqah Dakwah. Halaqah dihadiri ratusan perwakilan MUI kab/kota, ormas dan mahasiswa, halaqah yang juga dihadiri pejabat Kota Balikpapan ini bertempat  di Hotel Platium Balikpapan. Halaqah dakwah yang digelar belum lama ini dibuka  Ketua MUI Prov Kaltim KH Hamri Has.

Halaqah Dakwah yang bertemakan Menjawab Problematika Dakwah Di Kalimantan Timur ini menghadirkan Nara sumber dari Majelis Ulama Indonesia(MUI) Pusat Seperti Ketua Komisi Dakwah (MUI) pusat  Dr. KH M. Cholil Nafis, H Ahmad Zubaidi , MA (sekertaris Komisi Dakwah dan pembinaan Masyarakat), sedangkan pembicara dari Kaltim Drs HS Alwy As.

Dr. KH M. Cholil Nafis  dalam sambutanya mengatakan  di Indonesia mayoritas Islam tapi pemahaman tentang islam sangat beragam, ada yang banyak ilmu dan kuat imanya, dan ada yang berilmu tapi imanya kurang dan yang terbanyak kurang ilmu dan tipis iman. Dan Karena keterbatasan ilmu dan keimananya itulah jadi ladang penipu penipu yang berkedok agama, juga masuknya  aliran  aliran sesat , seperti wali palsu, ustadz palsu ,bahkan Nabi palsu.

“Di Indonesia ini apa saja laku, semua idiologi masuk dan diterima ada Nabi palsu banyak pengikutnya, ada aliran sesat juga banyak santrinya, bahkan menggandakan uangpun banyak yang percaya, walaupun kenyataanya mereka semua menipu,”ujar M Cholil Nafis.

Oleh karena itu lanjut Cholil Nafis manakala  dakwah kita tidak baik akan jadi ancaman, oleh karena itu para dai  harus bisa menyampaikan risalah agama secara baik dan tepat sasaran, para dai harus cerdas dan bicaksana.

Sekertaris Komisi Dakwah dan pembinaan Masyarakat MUI H Ahmad Zubaidi , MA mengatakan banyaknya kendala dakwah diindonesia, seperti banyak dai yang belum memiliki keilmuan yang memadai, tingkah laku dai yang pasif, dakwah hanya mengandalkan system ceramah langsung seperti melalui media TV, radio maupun medsos sehingga dakwahnya belum maksimal.

“ Padahal objek dakwahnya sangat komplek yaitu umat islam sendiri banyak sekali yang kelakuanya jauh dari ajaran Islam, baik dari segi aqidah , muamalah, akhlaq dan ibadannya,” terang Ahmad Zubaidi.

Tantangan lain  bagi seorang dai , lanjut Zubaidi  adalah adanya gerakan pemurtadan, ancaman alira sesat, komunisme,  dan mudahnya percaya kepada berita hoak.

MUI dalam menjalankan dakwah melalui Islam Wasathiyah (Jalan tengah). – Da’iyah Majelis Ulama Indonesia Indonesia harus menganut system: 1. Dakwah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika serta,

  1. Senantiasa melestarikan dan menyebarkan akidah Islamiyah ‘ala manhaj Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja); 3.   Melindungi dan membimbing umat dari ajaran sesat dan menyimpang;  4.   Berdakwah dengan berpijak pada nilai-nilai akhlakul karimah dan kearifan lokal; 5. Menjaga dan memupuk Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathaniyah; 6. Saling menghargai, menghormati dan bersinergi Dengan seluruh aktivis dakwah; 7. Menyebarkan dakwah sesuai dengan ilmu yang dimiliki.

Pembicara terakhir adalah Wakil Ketua MUI Kaltim HS Alwy AS yang banyak menyoroti Kendala yang dihadapi pendakwah kaltim misalnya adalah banyaknya aliran sesat, radilakisme, faham atheis dan sekuler yang semakin subur

“Kelemahan lainya kurangnya kemampuan para pemimpin islam, pemimpin umat memobilisasi dana untuk dakwah, ormas dan parpol berbasis agama tidak aspiratif terhadap kebutuhan agama dan ummat,” terang HS Alwy AS

Sementara itu Ketua MUI Prop kaltim KH Hamri Has menyambut baik halaqoh peta dakwah yang diselenggarakan Komisi Dakwah dan Pembinaan Ummat MUi Kaltim bekerja sama dengan MUI pusat, pihaknya sangat berharap  halaqoh ini menghasilkan solusi bagi dakwah di kaltim yang wilayahnya sangat sulit dan terisolir.

“Kaltim ini sangat luas mau ke daerah lain untuk dakwah harus naik pesawat atau laut sampai berhari hari dengan biaya yang sangat tinggi, jadi bisa dimaklumi kalau banyak masyarakat yang belum tersentuh oleh dakwah, “Ujar Hamri Hs

Hamri Has bercerita ada Masjid di desa terisolir yang masyarakatnya gagal menjalankan solat jumat hanya karena tidak datang imam maupun khatipnya dan yang kaya ini perlu mendapat perhatian kita semua.(Roghib)