Kemenag Jadikan Desa Santan Kukar Kampung Zakat

Pencanangan Kampung Zakat di Desa Santan Kukar

Kutai Kertanegara www,MUI kaltim.org. Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan sejumlah daerah sebagai daerah percontohan Kampung Zakat. Belum lama ini

Kemenag Menetapkan Desa Santan Tengah, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai Kampung Zakat yang  akan mendapat berbagai program pemberdayaan bernilai variatif sesuai kebutuhan setempat.

Kampung Zakat merupakan program Kemenag hasil kerjasama dengan pemerintah daerah setempat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dalam program ini sekelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan dibina dan diberdayakan dengan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Hadir dalam acara ini adalah Bupati Kutai Kartanegara H. Chairil Anwar, SH, M.Hum, Sekretaris Jenderal Ditjen Bimas Islam H. M. Fuad Nashar, S. Sos., M.Sc., Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Drs. H. Tarmizi, M.A., Kakanwil Kemenag kaltim Drs H Masrawan,MAg, Camat Marangkayu Rekson Simanjuntak, S.Sos, M.Si., dan Kades Santan Tengah Nasrullah.

Pada acara tersebut diserahkan pula bantuan kepada masyarakat berupa Al-Qur’an sebanyak 500 eksemplar, Juz ‘Amma 700 eksemplar hingga masjid dan musala 5 unit.

Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin mengungkapkan program ini merupakan wujud inovasi kebijakan yang lebih berbasis pencapaian output dan outcome.

Dengan pemberdayaan masyarakat, maka hasilnya jelas langsung dirasakan oleh penerima. Pendekatan agama diambil karena posisi agama secara inheren menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat.

“Program ini merupakan wujud kehadiran negara dalam berbagai permasalahan di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, Kemenag tidak hanya bertanggung jawab sebagai pembimbing dan penyebar nilai-nilai keagamaan, tetapi ingin berposisi sebagai rujukan dalam pengamalan Agama Islam yang konsisten dan bervisi rahmatan lilalamin.

Kamaruddin menambahkan, membangun masyarakat yang mandiri dan kuat menurut agama Islam basisnya adalah saling membantu antarmasyarakat. Salah satunya melalui zakat.

“Saya tegaskan sesuai namanya, program percontohan ini harus betul-betul menjadi contoh. Jangan hanya diresmikan lalu hilang. Ini pertaruhan kita bahwa ini harus berlanjut di masa yang akan datang,” tandasnya.

Bagi Kemenag, kegiatan ini memiliki makna yang lebih besar dari sekedar bantuan sosial. Yaitu menjaga dan memelihara esensi ajaran Islam yang hakikatnya peduli pada sesama.

Pemerintah juga memberikan muatan moderasi beragama dan memperkuat kesadaran keragaman dan kemajemukan. Kehadiran aparatur pemerintah di daerah binaan tersebut diharapkan dapat mencegah masuknya paham keagamaan yang menyimpang dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama.

Kampung zakat menjadi primadona dari banyak item dalam Program Percontohan. Selain itu terdapat beberapa bentuk kegiatan lain, seperti program wakaf produktif, bantuan renovasi dan operasional Masjid/Musholl, Pemberdayaan Penyuluh Agama Islam, bantuan Ormas dan Majelis Taklim, pembinaan Imam Masjid, dan juga pemberian Sembako, alat-alat salat, bantuan Al-Qur’an, dan buku-buku keagamaan.

Pilihan lokasi program ini mengacu pada wilayah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015.

Program Kampung Zakat sendiri merupakan salah satu program prioritas Ditjen Bimas Islam Kemenag yang bersinergi dengan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Proper ini sudah dimulai sejak tahun 2018, sebelumnya sejumlah daerah telah menikmati program ini yaitu Sambas (Kalbar), Bantar Gebang Bekasi, Inhil (riau), Donggala (Sulteng), Aceh Singkil (Aceh).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Drs. H. Masrawan, M. Ag., menyatakan dukungannya terhadap ‘Program Percontohan Daerah Binaan Ditjen Bimas Islam’.

Kemenag yang baru menjabat kakanwil itu ber harap Desa Santan Tengah sebagai desa binaan betul-betul dikelola dengan baik sebagai desa binaan. “Jangan hanya diresmikan lalu hilang.

Pewarta/Redaktur: Moh Roghib